logoblog

Cari

Tutup Iklan

Pelabuhan Carik Hidup Kembali

Pelabuhan Carik Hidup Kembali

KM. Sukamulia – Pelabuhan Carik adalah salah satu pelabuhan yang ada di wilayah Lombok bagian Utara. Berpuluh-puluh tahun lamanya pelabuhan ini

Infrastruktur

Pelabuhan Carik Hidup Kembali

Pelabuhan Carik Hidup Kembali

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
28 Desember, 2014 13:18:33
Infrastruktur
Komentar: 0
Dibaca: 9317 Kali

KM. Sukamulia – Pelabuhan Carik adalah salah satu pelabuhan yang ada di wilayah Lombok bagian Utara. Berpuluh-puluh tahun lamanya pelabuhan ini mati total dan ahirnya kini pelabuhan tersebut hidup kembali. Pelabuhan Carik eksis mulai sejak abad ke-16 M hingga abad ke-18 M, pada masanya pelabuhan ini memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat pulau Lombok Pelabuhan Carik merupakan tempat berlabuhnya kapal-kapal dagang asing yang berasal dari Arab, Cina, dan Francis, serta kapal-kapal dagang yang berasal dari Bali, Sulawesi, Kalimantan, Sumatra, dan berbagai daerah lainnya. Pelabuhan ini ditutup pada sekitar tahun 1932 akibat ulah tentara kolonial Belanda yang sering membajak kapal-kapal barang yang berlabuh di sana. Atas berbagai pertimbangan maka pada tahun 2007 Pemerintah Kabupaten Lombok Barat membangun pelabuhan ini dan mulai tahun 2009 proyek pembangunan Pelabuhan Carik ditangani sepenuhnya oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Utara dan pada tahun 2013 pembangunan tersebut dapat terselesaikan dengan baik.

Di Pulau Lombok terdapat beberapa pelabuhan yang pernah eksis dan berkembang pada masa lalu, misalnya Pelabuhan Hajin di Desa Labuhan Haji Kecamatan Labuhan Haji Kabupaten Lombok Timur, Pelabuhan Kayangan di Desa Lombok Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur, Pelabuhan Lembar di Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat, dan Pelabuhan Carik di Desa Anyar Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara.

Dua di antara keempat pelabuhan tersebut masih eksis hingga sekarang, yakni Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur yang masih difungsikan sebagai pusat pelayaran Lombok Timur yang menghubungkan antara Lombok dengan Sumbawa. Satunya lagi adalah Pelabuhan Lembar yang merupakan kota dagang yang sekaligus menjadi pusat pelayaran yang menghubungkan pulau Lombok dengan Pulau Bali.

Pelabuhan Haji di Lombok Timur, dulunya merupakan pelabuhan yang sangat besar dan sebagai pusat pertemuan pedagang-pedagang dari China, Arab, dan Indonesia di Lombok, namun sekarang Pelabuhan Haji tersebut sudah tidak eksis lagi dan rencananya akan dibangun kembali. Demikian juga dengan Pelabuhan Carik yang ada di Desa Anyar Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, yang dulu merupakan pusat perdagangan di daerah Bayan dan sebagai pusat pelayaran Lombok yang menghubungkan antara Pulau Lombok dengan Pulau Sulawesi.

Dalam perkembangannya pelabuhan-pelabuhan di Pulau Lombok mengalami kemerosotan, terutama pada zaman penguasaan Hindia Belanda. Demikian juga dengan Pelabuhan Cari yang merupakan pusat perekonomian masyarakat Bayan, kemerosotan Labuhan Carik tersebut berakibat pada keadaan sosial ekonomi masyarakat setempat dan sekitarnya.

Pelabuhan Carik eksis mulai sejak abad ke-16 M hingga abad 1ke-7 M. Pelabuhan Carik ini memiliki peranan yang sangat penting bagi kehdupan masyarakat sekitarnya sebab pelabuhan tersebut merupakan pusat perdagangan di Kedistrikan Bayan. Keberadaan Pelabuhan Carik yang pada waktu itu merupakan tempat bongkar muat barang para pedagang dari berbagai daerah memberikan suatu keuntungan ekonomi bagi masyarakat sekitarnya.

Pada awalnya Pelabuhan Carik merupakan pelabuha besar yang menjadi pusat perdagangan di wilayah utara Pulau Lombok. Pelabuhan Carik merupakan tempat berlabuhnya kapal-kapal dagang besar yang berasal dari manca negara dan berbagai wilayah Indonesia. Pelabuhan Crik merupakan merupakan tempat mongkar muat barang kapal-kapal dagang yang menuju Pulau Sulawesi, Kalimanta, dan Bali, dimana kapal-kapal dagang yang menuju daerah tersebut selalu beristirahat untuk mengambil atau menurunkan barang dagangan di Pelabuhan Carik yang terletak di daerah pesisir Desa Anyar Kecamatan Bayan (sekarang). Di sana terdapat gudang-gudang barang sebagai tempat penyimpanan barang-barang dagangan yang nantinya akan diangkut menuju berbagai daerah. Menurut keterangan masyarakat Desa Anyar, ketika pelabuhan ini masih eksis sekurang-kuramgnya di Pelabuhan Carik terdapat belasan gudang besar yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan baranh-barang dagangan yang nantinya akan dimuat oleh kapal-kapal dagang lokal ataupun manca negara untuk dipasarkan ke daerah-daerah seberang seperti, Sulawesi, Kalimantan, dan Bali. Gudang-gudang barang dagangan itu berjejer di daerah pesisir Desa Anyar.

Pada waktu itu, kapal-kapal yang berlabuh di Pelabuhan Carik adalah kapal-kapal dagang asing yang berasal dari Arab, Cina, dan Francis, serta kapal-kapal dagang yang berasal dari Bali, Sulawesi, Kalimantan, Sumatra, dan berbagai daerah lainnya. Kondisi Kedistrikan Bayamn pada saat berkembangnya Pelabuhan Carik itu sangat rama bahkan Desa Anyar berkembang menjadi kota pelabuhan dan pusat perdagangan Kedistrikan Bayan pada saat itu. Di dekat Pelabuhan Carik terdapat pasar yang sangat ramai setiap harinya, semua kebutuhan masyarakat dapat diperoleh di kota perdagangan tersebut, namun sejak berkembangnya pengaruh Belanda di Lombok, Pelabuhan Carik mengalami kemerosoatan sebab bangsa Belanda yang ingin mengekploetasi kekayaan masyarakat Lombok menghalang-halangi kapal dagang dari berbagai daerah dan manca negara untuk mendatangi atau bongkar muat barang di Pelabuhan Carik.

Menjelang kemerdekaan RI (tahun 1938), bangsa Belanda banyak melakukan pembajakan terhadap kapal-kapal dagang yang berlalu lalang menuju Pelabuhan Carik. Pembajakan tersebut menyebakan pedagang asing merasa tidak aman lagi untuk melakukan perdagangan melalui Pelabuhan Carik, sehingga lama-kelamaan para pedagang asing dan pedagang yang berasal dari berbagai wilayah indonesia merasa takut untuk melakukan pelayaran ke Labuhan Carih. Hal ini menyebabkan Pelabuhan Carik menjadi sepi sebab kapal-kapal dagang tidak berani melewati perairan Laut Jawa yang berada di wilayah Labuhan Carik.

Beberapa orang informan menerangkan bahwa pada tahun 1870-an, Desa Anyar merupakan kota pelabuhan yang sangat maju, namun menjelang kemerdekaan Republik Indonesia, Pelabuhan Carik yang sangat besar sekali peranannya bagi kehidupan sosila masyarakat setempata ditutup sebab kunjungan kapal-kapal dagang dari berbagai negara sudah tidak begitu ramai.

Pelabuhan Carik berkembang menjadi sebuah kota dagang yang besar sebab letaknya cukup strategis, dengan demikian maka masyarakat yang tinggal di daerah Pelabuhan Carik adalah masyarakat campuran. Mereka adalah masyarakat yang berasal dari berbagai daerah dan bahkan dari manca negara. Perlu diketahui bahwa masyarakat yang tinggal di Pelabuhan Carik pada saat itu adalah sebagian besar masyarakat pendatang. Hal ini disebabkan oleh tergesernya posisi  masyarakat asli sebab para pendatang lebih dominan dan memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di sana karena persaingan hidup pada saat itu cukup ketat, maklumlah yang namanya kota pelabuhan pasti situasinya sangat ramai dan persaingan ekonominya juga ketat.

Pada tahap perkembangannya Pelabuhan Carik yang begitu ramai tiba-tiba mengalami kemunduran, kapal dagang yang biasanya hilir mudik bongkar muat barang menjadi berkurang, kapal-kapa besar yang biasanya ramai berlabuh menjadi berkurang pula, para pedagang mulai sepi sehingga lama kelamaan kota dagang ini ditutup. Gudang-gudang barang yang semula selalu penuh dengan barang-barang dagangan seperti bawang, kelapa, dan barang-barang hasil bumu lainnya berubah menjadi kosong. Hal ini dipicu oleh tingkah laku bangsa Belanda yang pada saat itu sedang gencar-gencarnya menaklukkan wilayah Nusa Tenggara Barat.

Pelabuhan Carik muali ditutup pada tahun 1938, penyebab ditutupnya Pelabuhan Carik adalah karena bangsa Belanda sering membajak kapal-kapal dagang yang hilir mudik di wilayah perairan Laut Jawa, dengan dilakukannya pembajakan kapal oleh bangsa Belanda maka para pedagang merasa takun untuk melakukan pelayaran melalui arah utara pulau Lombok. Sebagai akibat dari pembajakan itu maka terjadilah kemunduran yang sangat derastis bagi perkembangan Pelabuhan Carik yang semula menjadi kota dangang dan kota pelabuhan yang sangat ramai, tahun 1938 harus menjadi sepi lagi sebab kapal-kapal yang biasanya hilir mudik bongkar muat barang di sana tidak ada lagi karena mereka takut dibajak oleh orang-orang Belanda.

Ulah bangsa Belanda memiliki danpak yang negatif bagi perekonomian masyarakat Kedistrikan Bayan pada umumnya dan masyarakat Desa Anyar pada khususnya. Bagaimana tidak, Pelabuhan Carik yang merupakan salah satu aset utama perekonomian masyarakat setempat ditutup dengan cara pelan-pelan. Ditutupnya Pelabuhan Carik merupakan suatu pukulan tersendirim bagi masyarakat Kedistrikan Bayan pada umumnya dan masyarakat Desa Anyar pada khususnya. Saat itu pasar Labuhan Carik memang masih dipergunakan namun hanya pedagang lokal saja yang masih melakukan aktifitas perdagangan di sana, sedangkan pedagang dari daerah luar sudah tidah ada lagi.

Kota dagang yang sebelumnya sangat ramai, kini menjadi sepi, gudang-gudang barang yang berjejer di pinggir pantai Labuhan Carik mulai ditinggalkan dan tidak ada lagi pengusaha yang menyetok barang dagangan di sana. Pada tahun 1939 Pasar Desa Anyar yang berada di daerah pelabuhan juga ditutup dan selanjutnya aktifitas perdagangan dan pelyaran mati total. Pelabuhan Carik tiba-tiba mjenjadi pelabuhan yang sepi tanpa penghuni. Semu pendatang yang umumnya melakukan aktifitas perdagangan di sana, satu persatu mulai angkat kaki untuk mencari penghidupan di tempat yang lain.

Sejak tahun 1939 hingga tahun 1950-an keadaan Pelabuhan Carik sungguh memperihatinkan, gudang-gudang yang terdiri dari gudang padi, gudang bawang, gudang ikan, gudang rempah, gudang kelapa, dan gudang-gudang barang lainnya hancur ditelan ombak. Tahun 1985 pasar Labuhan Carik ditutup sebab sepinya para pedagang baik lokal ataupun pedagang luar yang melakukan aktifitas jual beli di pasa itu.

Baca Juga :


Hingga tahun 2003 tidak ada perhatian pemerintah terhadap keberadaan Pelabuhan Carik, masyarakat yang tinggal di darah Pelabuhan Carik sudah tidak menemukan sisa-sisa pelabuhan sebab sekitar tahun 1990-an Pelabuhan Carik ditelan lautan karena seringnya terjadi abrasi di pesisir pantai Labuhan Carik. Hal ini menyebabkan bangunan-bangunan seperti gudang dan bangunan pelabuhan habis ditelan ombak dan pada tahun 1990-an tidak ditemukan lagi bekas-bekas kota pelabuhan. Sisa-sisa pelabuhan hanya tertinggal pada nama kampung yang ada di lokasi pelabuhan pada masa yang silam, di mana untuk tetap mengenang eksistensi Pelabuhan Carik maka kampung yang berada di wilayah Pelabuhan itu disebut dengan nama kampung Labuhan Carik.

Tahun 2004 pemerintah Kabupaten Lombok Barat mulai memiliki keinginan untuk merekostruksi kembali Pelabuhan Carik dengan rencana pembangunan kembali, artinya Pemerintah Kabupaten Lombok Barat memiliki keinginan untuk membangun kembali Pelabuhan Carik yang pada zaman dahulu pernah eksis sebagai pelabuhan besar yang tercatat di wilayah pulau Lombok sebelah utara. Pemerintah berkeinginan membangun Labuhan Carik sebab letak Pelabuhan Carik sangat strategis, yakni Pelabuhan Carik berdekatan dengan perairan Laut Jawa yang dapat menghubungkan pulau Lombok dengan daerah-daerah lain seperti Sulawesi, Kalimanta, Bali, dan sebaginya.

Mendengar rencana pemerintah untuk membangun kembali Pelabuhan Carik, masyarakat Desa Anyar terutama masyarakat sekitar daerah pelabuhan menyambut keinginan tersebut dengan penuh antusias.  Pada tahun 2005 Pelabuhan Carik kembali dibangun oleh pemerintah Kabupaten Lombok Barat, pada pertengahan tahun 2005 Pemerintah Kabupaten Lombok Barat sudah mulai melakukan langkah awal pembangunan Pelabuhan Carik yakni dengan mendatangkan material yang dibutuhkan dalam proses pembangunan Pelabuhan Carik, seperti batu, semen, dan besi. Selain itu, dilakukan juga perbaikan jalan menuju Pelabuhan Carik yang berjarak kurang lebih 2 Km dari pesisir pantai Labuhan Carik. Pengerjaan jalan ini dilakukan mulai dari proses pengerasan dan pengaspalan, dimana aspal yang digunakan adalah aspal kasar.

Pada tahun 2006 perkembangan Perlabuahan Carik terlihat agak lumayan, dimana pada tahun 2006 ini dilakukan pembuatan tanggul di sekitar pantai Labuhan Carik. Pembuatan tanggul ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya abrasi air laut yang dapat membahayakan lingkungan masyarakat sekitarnya, selain itu pembangunan tanggul ini juga dilakukan supaya pada tahap berikutnya proses pembangunan pelabuhan dapat dilakukan dengan baik. Tanggul yang direncanakan untuk dibuat pada tahun 2006 ini adalah kurang lebih 4,5 Km, namun yang terselesaikan hanya setengahnya saja yakni sekitar 2 Km saja yang terselesaiakn sedangkan sisanya yang 2,5 Km belum bisa terselesaikan sebab pada saat itu (ahir tahun 2006) terjadi kontropersi di tubuh pemerintah Lombok Barat.

Rencana pembangunan Pelabuhan Carik ini sempat menjadi permasalahan yang kontropersial antara pemerintah Kabupaten Lombok Barat dengan embrio pemekaran Lombok Utara sehingga pada tahun 2007 rencana pembangunan Pelabuhan Carik mengalami kemacetan yang disebabkan oleh adanya rencana pemekaran Lombok Utara. Melihat keadaan yang demikian maka rencana pembangunan Pelabuhan Carik dipending dulu oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, pengiriman material untuk sementara diberhentikan juga dan sepanjang tahun 2007 tidak terlihat adanya aktifitas pembangunan di wilayah rencana Pembangunan Pelabuhan Carik.

Awal tahun 2008 aktifitas pembangunan mulai terlihat kembali, namun yang menangani pembangunan pelabuhan ini adalah Pemerintah Kabupaten Lombok Utara yang pada saat itu masih menjadi kabupaten persiapan. Permbangunan yang dilakukan pada tahun 2008 adalah melanjutkan pembuatan tanggul penyangga yang dilakukan pada tahun 2006 sebab pada tahun 2006 itu pembangunan tanggul penyangga belum terselesaikan dengan sepenuhnya, dimana 2,5 Km belum terselesaikan dan pada tahun 2008 inilah pembuatan tanggul tersebut terselesaikan dengan sepenuhnya. Pada ahir tahun 2008 pemerintah persiapan Kabupaten Lombok Utara kembali mendrop bahan-bahan kebutuhan pembangunan pelabuhan berupa besi-besi penyangga pondasi pelabuhan dan sebagainya.

Setelah Kabupaten Lombok Utara menjalankan pemerintahan sediri (definitif) pada tahun 2009, maka sejak tahun 2009 ini pembangunan Pelabuhan Carik dikelola sepenuhnya oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Utara. Sebagai realisasi dari keinginan besar Pemerintah Kabupaten Lombok Utara untuk melanjutkan pembangunan Pelabuhan Carik sebagaimana yang telah dirncanakan oleh Pemeritah Kabupaten Lombok Barat sebelumnya adalah dilakukannya pembebasan lahan (tanah) di daerah sekitar lokasi pembangunan Pelabuhan Carik.

Antusias masyarakat dalam mendukung rencana pemerintah untuk membangun kembali Kota Pelabuhan yang pernah mati merupakan suatu aset bagi pemerintah Lombok Utara untuk merealisasikan rencan pembangunan Pelabuhan Carik. Dukungan masyarakat adalah suatu modal dasar bagi terealisainya pembangunan Pelabuhan Carik sebab jika terjadi kontra antara masyarakat dan pemerintah dalam rencana pembangunan tersebut maka proses pembangunan akan lamban. Dukungan masyarakat sekitar membantu pemerintah untuk merealisasikan rncanya.

Sejak pertengahan 2009 hingga tahun 2010 Pemerintah Kabupaten Lombok Utara mendatangkan alat-alat berat untuk pembangunan pelabuhan. Bahan-bahan yang akan digunakan untuk membangun pelabuhan sudah di drop ke lokasi pembangunan. Pada pertengahan tahun 2009 pemerintah mendatangkan besi-besi dan bahan-bahan lainnya yang akan digunakan sebagai penangkal arus di wilayah pelabuhan. Pada awal tahun 2010 pemerintah mulai mendatangkan alat-alat berat dan bahan-bahan esensi yang akan digunakan dalam proses pembangunan Pelabuhan Carik pada tahap berikutnya, bahkan pada bula September tahun 2010 Pemerintah Kabupaten Lombok Utara sudah mulai melakukan pembebasan lahan dan pemindahan masyarakat sekitar lokasi pembanguna Labuhan Carik ke darah-daerah yang sudah disediakan.

Tahun-tahun berikutnya pembangunan Pelabuhan Carik terus dipacu dan dilaksanakan tanpa kendala yang begitu berarti dan ahirnya pada pertengahan tahun 2013 pengerjaan Pelabuhan Carik terselesaikan jua sehingga pada ahir tahun 2013 Pelabuhan Carik diresmikan dan dibuka kembali sebagai Bandar perdagangan yang nantinya akan digunakan sebagai tempat bongkar muat barang oleh kapal-kapal dagang yang berasal dari berbagai daerah. Pelabuhan Carik yang sudah ditutuppuluhan tahun lamanya kini ramai kembali, setiap pagi dan sore hari suasana pelabuhan ini sangat ramai. Pelabhan ini memang belum difungsikan namun lokasi pelabuhan yang cukup indah membuat pelabuhan ini didatangi untuk tujuan wisata. Pada sore hari hingga tengah malam seituasi pelabuhan masih ramai sebab pinggiran dermaga sangat asyk untuk kegiatan memancing, lebih-lebih di sana banyak ikan. Hal inilah yang membuat pelabuhan carik tetap ramai oleh pengunjung.

Ke depannya pelabuhan ini akan menjadi pelabuhan yang ramai dan sudah barang tentu itu akan member danfak yang positif bagi perekonomian masyarakat sekitar dan masyarakat NTB pada umumnya. Oya perlu dikehatui bahwa pada malam tahun baru 2015 nanti akan diadakan pesta tahun baru di ini, jika kawan-kawan ingin menikmati pesta malam tahun baru dengan suasan pantai dan pemandangan yang indah maka datanglah ke Pelabuhan Carik sebab pada malam tahun baru akan diadakan pentas seni dan tentunya banyak hiburan lain yang dapat anda nikmati di pelabuhan yang indah ini.

Ahirnya marilah kita sama-sama berdoa semoga pelabuhan ini segera melakukan aktifitas sehingga ke depannya daerak kita akan semakin maju dan kondisi perekonomian masyarakat sekitar juga semakin meningkat. Semoga NTB semakin maju, semoga Kampung Media semakin menasional dan Salam dari Kampung. () -01

_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan