Pulih Dari Banjir Bandang

Kondisi Belanting kini beransur-ansur pulih dari musibah yang melandanya beberapa tahun yang lalu sampai memakan korban harta dan benda. Kejadian tersebut masih membekas disemangat masyarakat, karena banjir bandang yang sangat dahsat dibandingkan dengan banjir-banjir sebelumnya, dimana hampir 1 km jalan raya digusur oleh terjangan air yang datang dari bukit yang gundul karena ulah orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Sehingga peran Pemerintah dalam memberikan penyuluhan/bimbingan terhadap dampak negative dari  penebangan pohon atau hutan gundul  seperti banjir bandang harus tetap dianggarkan sehingga semua lapisan masyarakat dapat mengetahui pengetahuan terkait dengan pelesterian hutan. Terutama pada anak usia sekolah perlu mendapat pendidikan dengan harapan dapat memberikan contoh kepada masyarakat.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar tahun 2006 dan memberikan dampak terhadap keadaan alam sekitarnya yaitu tanah-tanah penduduk berupa sawah, ladang dan kebun dikikis oleh air banjir menjadi bagian dari sungai Desa Belanting. Sehingga sungainya menjadi lebar dan banyak bongkahan-bonkahan batu besar yang terdapat disekitar sungai dan memiliki lebar sekitar 100 meter, sungai tersebut melintasi Desa Belanting dan menelusuri wilayah sekitar Sekolah Polisi Negeri (SPN) Lombok Timur yang berada di Desa Belanting dan Bermuara di pinggir pantai Lepek Loang.

SPN yang berada di Desa Belanting pada saat terjadi banjir bandang  terkena pula dampak dari peristiwa tesebut dan banyak kerusakan yang dialami yang antara lainya berupa ruang belajar, ruang kantor, musolla dan timbunan kayu-kayu besar di halaman lapangan SPN bahkan mobilnya pun tertindih oleh gelondongan kayu-kayu yang terkirim dari hutan tanpa majikan. Selain itu juga jembatan penghubung SPN dengan Desa Belanting nyaris putus sehingga jalur untuk mengangkut kebutuhan/keperluan masyarakat pada saat itu tidak dapat disalurkan, sehingga beberapa hari masyarakat mengalami kelaparan dan kedinginan karena curah hujan yang tidak henti-hentinya.

Kini jembatan yang menghubungkan Desa Belanting dengan SPN Lombok Timur dan pusat pemerintahan sudah dapat digunakan karena perhatian pemerintah yang cukup andil dalam menangani masalah masyarkat walau masyarakat harus menunggu sampai 7 (tujuh) tahun lamanya. Karena sebelunmya telah dibuatkan jembatan dari beton layak seperti jembatan jaman penjajahan Jepang, namun hal tersebut tidak cukup bertahan lama karena kualitasnya tidak sama dengan yang diciptakan pada jaman penjajahan Jepang. Kurang satu tahun dari selesainya pembangunan jembatan beton tersebut akhirnya begitu datang banjir jembatan pun menajadi rata oleh air dari banjir bandang bukit Belanting tepatnya Agustus 2008 seperti yang diceritakan oleh penduduk Desa Belanting yang bernama Abah Amir dan Isterinya Syarifa Fatimah.

Melihat kondisi tersebut pemerintah kiranya memperhatikan lebih serius terhadap pembangunan jembatan yang lebih kuat dan kokoh sehingga di anggarkan untuk pembangunan yang sumber anggarannya berasal dari APBN dan APBD dan jembatan tesebut selesai dekerjakan sekitar akhir tahun 2013. Kini jembatan ini terlihat sangat kokoh yang bahannya terbuat sebagian besar dari rangka besi baja tentu hal ini memberikan harapan besar terhadap perubahan diberbagai sector yaitu tumbuhnya perekonomian masyarakat Desa Belanting dan sekitarnya, selain itu juga tentu bidang-bidang yang lain diharapkan dapat berkembang dan tumbuh seiring. Semoga harapan ini tidak luntur karena biasanya setiap pembangunan proyek pemerintah sering dikurangi volumenya sehingga kekuatan bertahannya semakin berkurang atau tidak mencapai masa yang telah ditentukan, oleh sebab itu pengawasan dari pemerintah terhadap proyek yang menangani tender-tender harus jeli dan teliti.(Aponk)

-( 01 )

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru