Desa Sambori Terancam Longsor

KM RUNGGU—Sedikitnya 200 lebih rumah di Desa Sambori Kecamatan Lambitu terancam longsor. Bahkan beberapa pemilik rumah terpaksa membongkar dan memindahkan rumahnya karena sudah ambruk.

            Kepala Desa Sambori, Muhtar mengatakan, persoalan ancaman desa itu akan longsor  sudah dikoordinasikan dengan pemerintah daerah. Bahkan, pemerintah sudah mendatangkan tim ahli untuk mengecek kondisi tanah di desa tersebut. “Memang kondisi tanahnya sudah pada retak, tim ahli pun mengatakatan bahwa pemukiman itu akan ambles,’ jelasnya.

Kades menambahkan, untuk tempat relokasi bagi 264 kepala keluarga di dua dusun tersebut, sudah disiapkan. Hanya saja, pihaknya masih menunggu tindak lanjut dari pemerintah Kabupaten Bima. “Tempat relokasinya sudah ada, dan beberapa warga pun sudah menyetujui itu,” katanya.

Dikatakanya bahwa,  sejumlah fasilitas umum seperti bangunan Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) maupun jalan, semuanya sudah roboh dan retak. Bahkan, aktivitas sekolah di TK tersebut lumpuh total, begitupun dengan akses jalan di gang-gang kecil. Meski begitu, warga setempat tetap melaksanakan aktivitasnya seperti biasa.”Walaupun kondisi tanah sudah mulai retak bahkan ada rumah yang sudah roboh, tapi warga tetap melaksanakan aktifitas seperti biasa,” terang Muhtar.

Seorang pemilik rumah, Siti Nurbaya, 45 tahun mengaku sudah memindahkan rumahnya ke tempat lain. Dia khawatir, tanah tempat tinggalnya akan ambles. Pasalnya, hampir 70 persen tanah tempat pemukiman warga ini semuanya sudah retak.

“Untungnya, kami rumah kayu. Seperti yang anda lihat bangunan rumah batu di desa ini, hampir semuanya retak. Karena tanahnya sudah pada ambles,” ungkapnya, kemarin.

Menurutnya, pemukiman warga di daerah setempat sudah lama terancam longsor. Namun, hingga kemarin belum ada upaya pasti pemerintah dalam mencarikan solusi terkait persoalan tersebut.

Nurbaya mengaku siap diungsikan bila pemerintah sudah menyiapkan lokasi untuk pemindahan rumahnya. “Yang penting pemerintah menyiapkan tempatnya aja. Kami akan langsung menempatinya, karena kondisi tanah ini sudah semakin mengkhawatirkan,” imbuhya.

Dia memperkirakan, keretakan tanah itu akan terus bertambah. Pasalnya, kondisi tersebut sudah berlangsung selama 5 tahun terakhir. “Selama 5 tahun itu kami hidup dalam kekhawatiran. Kami berharap pemerintah segera mencari tempat relokasi untuk kami tinggal,” katanya. (ris)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru