Tuntut Ganti Rugi Warga Ancam Blokir Jalan

Blokir jalan saat menyampaikan aspirasi sepertinya sudah terstigma sebagai cara ampuh oleh massa aksi. Mencontoh aksi-aksi sebelumnya di tempat-tempat lain di wilayah Kabupaten Bima, Warga Desa Naru pada Sabtu (16/08), akhirnya memutuskan untuk memblokir jalan lintas Tente - Parado menuntut CV Binga Raya selaku pihak pemegang proyek untuk mempercepat pengaspalan jalan sepanjang Desa Naru, yang menurut mereka lamban dan terkesan diabaikan.

Zulkarnain Gaffar, S.Pd, Koordinator aksi dalam orasinya mencontoh jalan di Desa Sakuru Kecamatan Monta yang nota bene baru ‘kemarin sore’ pengerjaannya, tapi karena warganya memblokir jalan, sekarang sudah diaspal buta. Sedangkan di Desa Naru sendiri, sudah dua bulan dibiarkan hanya ditimbuni sirtu. Dan warga Desa Naru di sepanjang jalan, dikatakannya sangat menderita oleh debu yang mengepul dari jalan setengah jadi tersebut.

“Ini keterlaluan”, kesalnya. “Apa maunya pihak proyek? Kita sudah menuntut secara lisan dipercepatnya aspal jalan ini, tapi ditunggu-tunggu enggak digubrisnya. Apa harus menunggu kita blokir jalan dulu baru diurus? Kalau begitu mari kita blokir jalan”, ajaknya sontak disambut setuju oleh massa aksi.

Massa pun menutup total akses jalan mulai pukul 10.40 waktu setempat, sehingga baru sekitar 10 menit berjalannya aksi, arus kendaraan terlihat lumpuh sepanjang Naru. Melihat dampak aksinya yang merugikan pengguna jalan umum, massapun sepakat membuat kebijakan untuk membuka sebagian ruas jalan dan hanya menyasar Dump Truck yang memuat aspal. Arus kendaraanpun nampak kembali bergeliat dengan laju yang tersendat-sendat.

Tak ayal satu Dump Truck pengangkut aspal milik proyek terpaksa menumpahkan muatannya yang senilai 8 juta tersebut di tengah jalan akibat mendapat tekanan aksi. Melihat gelagat yang tidak menguntungkan, beberapa Dump Truck lainnya cepat berbelok arah menghindari aksi.

Sementara Kepala Desa Naru, Suryadin langsung tiba di lokasi beberapa saat setelah dikabarkan akan aksi warganya, dan langsung menghimbau warganya untuk menghentikan aksi. Karena menurutnya, pemerintah desa sebagai perantara telah menghubungi pihak proyek, dan akan segera mengirim perwakilannya menemui massa.

Sayangnya, kabar tersebut malah memperparah keadaan. Menunggu lama, perwakilan proyek sebagaimana dikatakan Suryadin tidak kunjung datang, massapun emosi kembali menutup total ruas jalan yang sebelumnya sempat dibuka. Antrian kendaraan kembali menumpuk.

Emosi massa baru mencair ketika Sekretaris Kecamatan Woha, Irfan DJ, S.Sos tiba di lokasi sekitar Pukul 12.15 dan menyampaikan, bahwa CV Bunga Raya telah dihubunginya dan berjanji akan mengaspal jalan sebagaimana dituntut, pada Hari Senin (18/08) lusa. Irfan bahkan siap menjadi jaminan bahwa Senin pengaspalan sudah akan dilakukan.

Mendapati Irfan sebagai jaminannya, massa lantas membuka penuh akses jalan yang didudukinya selama hampir 2 jam, sembari mengancam akan kembali blokir total dalam waktu yang lama dan dalam jumlah yang lebih besar, jika Senin janji tersebut tidak terealisasi. “Kami akan kembali turun bahkan tidak hanya akan blokir jalan, tapi kami akan menuntut kerugian dari pihak proyek sebesar 1 miliar karena dampak lingkungan dan kesehatan warga Naru akibat polusi udara yang disebabkan keterlambatan proyek ini,” sesumbar Koordinator Aksi, Zulkarnain.

Menurut beberapa sumber, CV bunga Raya sendiri bukannya sengaja mengabaikan pengaspalan jalan sepanjang Desa Naru tersebut, tetapi mengingat kontur tanah yang belum stabil, ditakutkan aspal jalan akan cepat jebol di banyak tempat. Akibatnya, malah akan lebih merugikan bagi masyarakat itu sendiri. [Adn] -01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru