Polemik BIZAM Dan Cupak Gerantang

Kunjungan saya ke BIL (Bandara Internasional Lombok) jarang karena jarak, dari rumah saya kesana sekitar 90 menit, lagipun itu kalau menggunakan kendaraan pribadi tanpa macet. 

Mengunjungi BIL itu masih bisa dihitung jari, selain sebagai jelata yang kere, bersaing di area semacam itu sangat tidak menggiurkan dibanding hobbi "Ngoven" tembakau lombok, alasan ini juga yang menjadikan saya merasa tidak perlu mendukung ketidak setujuan mereka yang enggan menyemat nama pahlawan di bandara Tanak Awu itu.

Di masyarakat sasak tempo doeloe saat nenek saya masih hidup, sebelum saya tertidur pulas, disela pemadaman listrik tahun 90an, menjadi suguhan saat paling saya sukai adalah kisah Cupak Gerantang, Anak Iwok, atau Timun bongkok,

Cupak adalah simbol keburukan, keegoan serta keinginan untuk tampil lebih, dibanding Gerantang sebagai protogonisnya, gerantang lebih sering kalah menurut dan nerima.

Saya paling suka saat nenek bertutur Cupak gerantang di dialognya yang sangat populer itu:

Cupak: gerantang adikku sudah waktunya kita makan, namun, bila kita menggunakan Air minum bekal kita sebagai cuci tangan alangkah ruginya kita, beguni coba liat kearah telunjukku disana ada kepulan asap, pergilah engkau kesana dan mintalah kepada penduduk secawan air untuk cuci tangan kita, sementara aku disini akan menunggu sampai kamu kembali.

Gerantang: Baiklah kakak, aku akan kesana !!!

Setelah kembali, yang ditemui Gerantang adalah cupak yang sudah tertidur pulas kekeenyangan sehabis makan, dan Gerantang hanya mendapat jatah air yang diminta dari jerih payahnya saja,

Mengetahui adiknya kembali maka Berkatalah cupak,

Cupak: Sungguh aku merasa sangatlah lelah menempuh perjalanan ini, sementara aku mengawasimu dikejauhan sana, karena tiupan angin sangat lembut akupun tertidur, hingga aku tidak tahu kalau makanan kita habis dimakan binatang buas, beruntung jatah besok masih aku simpan.

Soal bandara itu saya lebih memilih setuju atas inisiatip gubernur untuk segera mengganti nya, alasan utamanya agar polemik ini tidak berkepanjangan, tohpun akhirnya perisaian antara gerantang dengan parapenantang tetap akan dimenangkannya, sebab Gerantang terlatih setiap hari untuk menyelesaikan konflik dan senantiasa berbaur dengan masyarakat.

Alasan ini akan dipandang tidak objektif karena tidak bersumber dari sumber ilmiah, tetapi babad lombok adalah babad perang saudara, potret kelam bangsa sasak akibat k3dengkian Cupak atas saudara nya Gerantang akan berulang terus menerus.

Akhirkata saya dukung penyematan nama #BIZAM_Ditanak_Awu.

Jerua..

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru